Bali- Berangkat n Tanah Lot
Seharusnya
Kamu
Sungguh, Kegilaan Dalam Sepenggal Kata
beda
Back to December lyric
I'm so glad you made time to see me.
How's life? Tell me how's your family.
I haven't seen them in a while.
You've been good, busier than ever,
We small talk, work and the weather,
Your guard is up and I know why.
Because the last time you saw me
Is still burned in the back of your mind.
You gave me roses and I left them there to die.
So this is me swallowing my pride,
Standing in front of you saying, "I'm sorry for that night,"
And I go back to December all the time.
It turns out freedom ain't nothing but missing you.
Wishing I'd realized what I had when you were mine.
I'd go back to December, turn around and make it all right.
I go back to December all the time.
These days I haven't been sleeping,
Staying up, playing back myself leavin'.
When your birthday passed and I didn't call.
And I think about summer, all the beautiful times,
I watched you laughing from the passenger side.
Realized that I loved you in the fall.
And then the cold came, the dark days when fear crept into my mind
You gave me all your love and all I gave you was "Goodbye".
So this is me swallowing my pride
Standing in front of you saying, "I'm sorry for that night."
And I go back to December all the time.
It turns out freedom ain't nothing but missing you,
Wishing I'd realized what I had when you were mine.
I'd go back to December, turn around and change my own mind
I go back to December all the time.
I miss your tanned skin, your sweet smile,
So good to me, so right
And how you held me in your arms that September night --
The first time you ever saw me cry.
Maybe this is wishful thinking,
Probably mindless dreaming,
But if we loved again, I swear I'd love you right.
I'd go back in time and change it but I can't.
So if the chain is on your door I understand.
But this is me swallowing my pride
Standing in front of you saying, "I'm sorry for that night."
And I go back to December...
It turns out freedom ain't nothing but missing you,
Wishing I'd realize what I had when you were mine.
I'd go back to December, turn around and make it all right.
I'd go back to December, turn around and change my own mind
I go back to December all the time.
All the time.
Mocca-Happy

Life is Just a Bowl of Cherries,
Sometimes It's afraid Filled with Worries
Don't be afraid, When Things Go Wrong, Just be Strong.
When Thing Seems up in the Air,
And Everything is so Unfair,
And You Stumble and Fall
Just Pick Yourself up and Sing
If One Day You Lose Your Way,
Just Remember One Thing, My Friend.
When You're Under a Cloud
Just Visit Music and Sing
If One Day You Lose Your Way,
Just Remember that I'm Here to Stay.
Don't You Give up, Keep Your Chin up,
And Be Happy!
Mocca-The Best Thing

I've got the best thing in the world
Coz' I got you in my heart
And this screw little world
Let's hold hand together
We can share forever
Maybe someday the sky will be colored with our love
I wake up in the morning
Feeling emptiness in my heart
This pain is just too real
I dream about you, with someone else
Please say that you love me
That we'll never be apart
You have to promise
That you will be faithful
And there will be lots and lots of love
It is the thing that really matters in this world…
Mocca-Me and My Boyfriend

I’ve got a boyfriend now
He’s my dearest pal
He’ll always catch me when I fall
He’s always there when I call
I’ve got a boyfriend now
He always talks so loud
Even in a crowded house
He always shows what he got
I share my dreams and all my stories
I don’t think I need my diary
If you’re teasing me, don’t you worry?
I will keep you in my memories
When my boyfriend smiles
The world seems all mine
And all the days seems truly fine
Make me reach up for the sky
Me & my boyfriend now
We’re moving so slow
If you really want to know
Come on and join the show!
I share my dreams and all my stories
I don’t think I need my diary
If you’re teasing me, don’t you worry?
I will keep you in my memories
When I’m blue?. feel so lonely
No one sits here right beside me
I’m gonna call you just to hurry
Come and see me
It’s so scary and I need you desperately
I share my dreams and all my stories
I don’t think I need my diary
If you’re teasing me, don’t you worry?
I will keep you in my memories
I share my dreams and all my stories
I don’t think I need my diary
If you’re teasing me, don’t you worry?
I will keep you in my memories
Mocca-On the night like this
Sajak Untuk Malam

Gelap…,
Malam Terlelap, membawa mimpi usang yang selalu sama
Meninggalkan sepotong bulan yang meredup ditelan mendung
Ah,
Dinginnya
Dimana dongeng mu?
Dimana lagu pengatar tidur untukku?
Mengapa juga sang malam tak segera berlalu
Agar bisa segera kuhapus resahku
Sebab dingin ini semakin meremukkan jiwaku
Membawaku dalam nuansa pilu yang tak pernah kau tau
Disudut gang, doaku tertinggal
Tercampakkan dalam perih luka dan sebotol minuman
Hahahaha
Aku tahu kau tertawa
Menertawakan diriku disuatu tempat
Kau benar, aku tak akan menang
Sebab pecundang tak bersanding dengan kemenangan
Hei, tapi coba menolehlah
Bisakah kau kembali mengitung berapa ratus senja yang ku syairkan untukmu
Ah, sudahlah…lupakan saja….
Tak ada perlunya mengingat
Sebab kini bukan lagi tentang kau dan aku
Karena cinta,
Merah ini akan segera memudar
Menjadi getir pedih yang akhirnya tak meraih makna
Kini aku mengulang sajak yang sama pada malam
Menyusun kepingan sepi yang terdiam
Tak perlu berteriak atau memaki dunia
Biarkan aku…
Biarkan tenggelam….
Sepi…
Kemana sekeping purnama itu pergi?
Ah,
Ternyata dia menghilang ditelan pagi
Tari Gambyong

A. Deskripsi
Tari Gambyong adalah suatu tarian yang disajikan untuk penyambutan tamu atau mengawali suatu resepsi perkawinan. Biasanya penarinya rata-rata masih muda dan berparas cantik. Sebagai suatu bentuk performance art, tari Gambyong menyajikan santapan estetis tersendiri bagi siapa saja yang menyaksikan sehingga sangat cocok untuk dijadikan objek wisata seni budaya.
Awal mula istilah Gambyong tampaknya berawal dari nama seorang penari taledhek. Penari yang bernama Gambyong ini hidup pada zaman Sunan Paku Buwana IV di Surakarta. Penari taledhek yang bernama Gambyong juga disebutkan dalam buku Cariyos Lelampahanipun karya Suwargi R.Ng. Ronggowarsito (tahun 1803-1873) yang mengungkapkan adanya penari ledhek yang bernama Gambyong yang memiliki kemahiran dalam menari dan kemerduan dalam suara sehingga menjadi pujaan kaum muda pada zaman itu.
Koreografi tari Gambyong sebagian besar berpusat pada penggunaan gerak kaki, tubuh, lengan, dan kepala. Gerak kepala dan tangan yang halus dan terkendali merupakan spesifikasi dalam tari Gambyong. Arah pandangan mata yang bergerak mengikuti arah gerak tangan dengan memandang jari-jari tangan menjadikan faktor dominan gerak-gerak tangan dalam ekspresi tari Gambyong. Hal ini dapat diamati pada gerak ukel asta (memutar pergelangan tangan) sebagai format gerak yang sering dilakukan.
Gerak kaki pada saat sikap berdiri dan berjalan mempunyai korelasi yang harmonis. Sebagai contoh, pada gerak srisig (berdiri dengan jinjit dan langkah kecil-kecil), nacah miring (kaki kiri bergerak ke samping, bergantian atau disusul kaki kanan di letakkan di depan kaki kiri), kengser (gerak kaki ke samping dengan cara bergeser/posisi telapak kaki tetap merapat ke lantai). Gerak kaki yang spesifik pada tari Gambyong adalah gerak embat atau entrag, yaitu posisi lutut yang membuka karena mendhak (merendah) bergerak ke bawah dan ke atas.
Penggarapan pola lantai pada tari Gambyong dilakukan pada peralihan rangkaian gerak, yaitu pada saat transisi rangkaian gerak satu dengan rangkaian gerak berikutnya. Sedangkan perpindahan posisi penari biasanya dilakukan pada gerak penghubung, yaitu srisig, singget ukel karna, kengser, dan nacah miring. Selain itu dilakukan pada rangkaian gerak berjalan (sekaran mlaku) ataupun gerak di tempat (sekaran mandheg).
B. Keistimewaan
Tari Gambyong sebagai tarian wanita mempunyai regulasi-regulasi dalam implementasi geraknya sehingga privasi geraknya tampak dibatasi. Hal ini dilakukan agar sifat kewanitaan yang halus selalu dapat dipertahankan atau ditonjolkan. Dalam tarian wanita jarang ditemukan luapan emosi, tetapi harus selalu lembut, halus, dan sopan. Sifat wanita yang ideal dan luhur ini selalu dihormati dengan ungkapan seni yang halus. Oleh karena itu, tidak ada gerak lengan yang lebih tinggi dari bahu, tidak pernah ada gerak meloncat, dan kedua paha selalu rapat. Bentuk torso (badan) wanita yang halus dan kelenturan anggota badannya menyempurnakan garis-garis kewanitaan menjadi sangat indah. Ini dapat tercapai dengan naluri dan budi pekerti yang halus.
Perkembangan tari Gambyong tidak terlepas dari nilai estetis yang mengungkapkan keluwesan, kelembutan, dan kelincahan wanita. Nilai estetis ini terdapat pada keharmonisan dan keselarasan antara gerak dan ritme, khususnya antara gerak dan irama kendang. Sinergitas antara gerak dan ritme ini menjadikan tari Gambyong tampil lebih sigrak (tangkas). Nilai estetis tari Gambyong akan muncul apabila penarinya juga menjiwai dan mampu mengekspresikan dengan perfek sehinga muncul ungkapan tari yang erotis-sensual.
Busana dan rias pada tari Gambyong mempunyai peran yang mendukung ekspesi tari dan faktor penting untuk suksesnya penyajian. Bentuk rias corrective make up yang menghasilkan wajah cantik dan tampak alami, menarik untuk dilihat.
Sementara itu, busana tari Gambyong yang disebut angkinan atau kembenan menjadikan lekuk-lekuk tubuh penari tampak terbentuk. Dengan demikian, bagian-bagian tubuh yang digerakkan kelihatan jelas sehingga gerak seperti ogek lambung yang bervolume kecil dapat tampak lebih jelas. Bentuk busana ini memungkinkan juga memberikan keleluasaan gerak sesuai dengan manifestasi dan kelincahan Tari Gambyong.
Dengan penggunaan kain yang diwiru, maka pada saat berjalan atau bergerak, lipatan kain (wiron) itu akan membuka dan menutup serta kelihatan hidup sehingga dapat memperkuat impresif kenesnya. Maka, busana yang dianggap sesuai dengan ekspresi tari Gambyong adalah busana angkinan dengan gelung gedhe.
Bagian bahu dibuat terbuka, bahkan kadang-kadang payudara dinaikkan sehingga tampak montok dengan sebutan glathik mungup (lekukan payudara, tampak seperti burung gelathik muncul). Perkembangan busana tari Gambyong yang beragam saat ini lebih terkesan dekoratif dan kurang memerhatikan kemungguhan (kesesuaian) tari. Meskipun demikian, perkembangan busana itu tetap membuat penyajian tari Gambyong semakin beragam dan menarik.
Penyajian tari Gambyong akan dapat mencapai nilai estetis apabila dilakukan oleh penari yang memiliki basis tari yang kuat. Kemantapan sajian tari dari seorang penari dipengaruhi oleh latar belakang budaya yang membentuk diri penari, di samping faktor kebiasaan dan kematangan. Kebiasaan dan kematangan pada tari Gambyong akan membentuk penari itu menjadi penari yang luluh atau menyatu dengan tari yang disajikan. Karena disadari penari tidak sekadar bergerak secara fisik saja, tetapi yang lebih penting adalah mampu mengungkapkan intuisi lewat gerak yang dinamis dan proporsional.
Tari Gambyong memiliki daya tarik yang sangat kuat karena estetika gerak-geraknya yang bersifat erotis. Motif-motif geraknya merupakan gerak-gerak nonrepresentatif (tan wadhag) atau gerak-gerak yang sangat distilisasi sehingga tari tersebut mempunyai yang lebih luas bagi penonton atau penikmat. Selain itu, motif-motif gerak yang bervariasi dengan tempo gerak yang cepat serta cekatan menjadikan tari Gambyong lebih dinamis. Juga karena spesifiknya motif-motif gerak tarinya yang disebabkan oleh tuntutan untuk dapat menimbulkan kesan erotis menjadikan penyajian tari Gambyong menarik untuk dinikmati para penonton atau penikmat.
C. Lokasi
Tari Gambyong bisa dinikmati di Kota Madya Surakarta.
D. Akses
Untuk menukmati Tari Gambyong, wisatawan dapat hadir pada acara resepsi pernikahan yang menggunakan adat Surakarta yang asli, atau menghadiri pagelaran seni tari yang diselenggarakan Keraton Surakarta.
E. Harga Tiket
Untuk menikmati Tari Gambyong wisatawan tidak perlu membayar tiket (gratis).
sumber: www.student.d3ti.mipa.uns.ac.id
Astri
Walaupun manja, Astri sangat rajin dan tekun belajar. Dia selalu menjadi ranking satu di kelasnya. Karena ketekunannya, suatu hari dia ditunjuk gurunya mengikuti olimpiade Ilmu Pengetahuan Alam. Dia belajar lebih giat pada saat itu.
Sehari sebelum lomba, seluruh anggota keluarga, pembantu, bahkan sanak saudara dia mintai restu.
“Bapak, Ibu, dan Mbak Ningrum, Dik Astri minta doanya ya, biar besok aku bisa menang olimpiade IPA,”
“Iya, pasti semua berdoa agar kamu menang, sayang. Mana mungkin Mbak Ningrum sama Bapak Ibu pengen kamu kalah. Iya nggak, Pak, Bu?”
“Iya dong, masa Ibu nggak pengen anak Ibu yang lucu, cantik, dan pintar ini kalah?” Sahut Ibu.
“Wah, betul itu. Belajar yang rajin ya, Nak! Supaya pintar dan dihargai orang lain. Seperti Bapak ini lho,” Timpal Bapak sambil mulai narsis.
“Wuuuuu, dasar Babeth tukang narsiiiissss!!!!!!!” Aku dan Astri menyoraki Bapak.
“Lho... Iya to? Kalau bapakmu ini gebleg, apa Ibumu ini mau? Iya tho, Istriku sing ayu dewe iki?”
“Jamila bukan jamidong, ya iya dong! Hehehe,” Sahut Ibu.
“Cie-cie, Bapak sama Ibu mau mengulang masa muda ni yee... Hahahahaha........” Sahutku dan Astri sambil tertawa.
Kami sekeluarga pun tertawa bersama.
Namun, pada malam hari sebelum olimpiade, dia stress dan grogi dan tidak bisa tidur.
“Bu, gimana ini, besok udah maju tingkat kecamatan, kalau lawanku pintar-pintar bagaimana ini?”
“Sudah, kamu kan sudah berusaha kemarin, sekarang saatnya kamu berdoa dan istirahat, agar besok kamu bisa fokus mengerjakan soal olimpiade.”
“Iya, jangan stress, nanti malah sakit lho, sudah tidur sana,” Ujar Bapak menimpali.
Akhirnya, Astri tidur lelap setelah dibujuk dan didongengi oleh Bapak. Sebenarnya, bapak tidak terlalu pintar mendongeng. Sejak saya masih kecil hingga sekarang, dongengnya hanya tentang tokoh fiksi “Cuit-Cuitan” ciptaan bapak. Dari tokoh, latar, tema, alur hingga pilihan katanya pun sama dan tidak pernah berubah. Namun, Dia tidak pernah bosan.
Keesokan harinya, Astri mengikuti olimpiade IPA tingkat kecamatan piyungan tersebut. Akhirnya, Dia berhasil menjadi juara ketiga dan berhak mengikuti seleksi tingkat Kabupaten Bantul untuk maju lagi di tingkat propinsi.
Sesampainya dirumah, Adikku bercerita dengan semangat kepada kami sekeluarga.
“Na.... na.... ni... na.... naa...,” Senandung Astri saat diperjalanan pulang dijemput Budhe Tri, pengasuhnya sejak bayi.
“Kenapa je kamu, Dik? Tumben ceria banget,” Tanya Budhe Tri.
“Wah, Budhe Tri, Aku menang juara tiga ni olimpiadenya. Asik kan?”
“Hebat dong!” Puji Budhe.
Aku dan Adikku, Astri memang dekat dan akrab dengan Budhe Tri karena dia adalah pengasuh kami sejak kecil. Hingga kini, Budhe Tri masih bekerja dirumah kami.
Ketika Ibu dan Bapak pulang dari bekerja, Astri langsung menceritakan kemenangannya dengan semangat.
‘Ibu.... Ibu... Aku menang juara tiga, Bu.”
“Wah, hebat. Selamat ya Nak. Lalu kapan kamu mau lomba lagi?”Sahut Bapak.
“Wah, kalau itu masih belum tau, Pak. Kata Bu Guru masih nunggu informasi gitu,”
“Ntar kalau menang traktir aku es krim ya, Dik. Gak mahal kok, yang dua ribuan juga nggak papa. Hehe,” Aku ikut nimbrung
“Kamu ki maunya yang gratis terus gek, Mbak!” Ujar Astri setengah bercanda dan sebal.
“Oh, iya dong. Manusiawi itu. Hahaha,” Aku tersenyum jail.
Selain pintar dan manja, Astri pun sangat lucu dan kekanak-kanakan. Contohnya, saat kami sekeluarga akan ke Jakarta pada bulan Desember tahun lalu. Saat itu, Budhe pulang dari Tanah Suci selepas menunaikan Ibadah Haji.
Bapak dan Pakdhe Rohmat naik kereta api pada pagi hari. Pakdhe Rohmat adalah kawan Bapak dan Ibu dan sudah seperti saudara bagi kami. Sore harinya, Aku, Ibu, dan Astri naik pesawat karena kondisi fisik Astri yang tidak memungkinkan untuk naik kereta api.
Malam hari sebelum keberangkatan kami ke Jakarta, Astri sangat senang. Dia tidak sabar membayangkan bagaimana rasanya terbang diatas awan menggunakan pesawat. Maklum, itu adalah kali pertamanya naik pesawat terbang. Saking senangnya, Dia tidak mau melewatkan barang satu menit pun untuk tidur hingga jam menunjukkan pukul 12 malam.
“Pak, aku nggak bisa tidur...,” Kata Astri
“Gimana ya Pak, rasanya terbang naik pesawat?” Tanyanya pada Bapak.
“Rasanya ya seperti itu,”
“Enak nggak bu? Nanti seperti naik komedi putar di sekaten itu bu?” Tanyanya pada Ibu
“Hmmm....,” Jawab Ibu yang sudah tidur.
“Bu.....,” Panggil Astri sambil menggoyang-goyangkan Ibu.
“Sudah to, kamu itu tidur aja, besok pagi bangun nganterin Bapak sama Pakdhe ke Stasiun. Sorenya Kamu, Ibumu, sama Mbakmu berangkat,“ Sahut Bapak jengkel.
Sore harinya, kita berangkat ke Jakarta. Di perjalanan ke bandara, Astri bernyanyi tiada henti. Dan ketika di pesawat pun dia masih tersenyum senang dan bersenandung ria.
Hingga kini, Astri tetap menjadi anak yang manja dengan sorot mata cerianya. Mungkin dengan berjalannya waktu, dia akan berubah menjadi sesosok gadis dewasa dan tidak lagi manja. Bermetamorfosis menjadi gadis ayu nan anggun. Namun kapan saat itu akan tiba, hanya Tuhan yang maha tahu. Tapi Astri tetap Astri bagi kami. Esok ataupun nanti.
Jogja, 22 Mei 2011
23:16
Diujung kamar kerja
Diterangi sorot lampu meja
(no tittle)
Aku ingin menjadi seorang penyair hebat
Tuk taklukkan seluruh jagat
Nanti,
Akan kupeluk mimpi-mimpi
Menerbangkan hasrat yang menjadi
Tapi besok,
Entahlah...
Aku pun sudah lelah
Berselimut sejuta kisah
Gurat
Yang penuh goresan tak bermakna
Bukan pula gita
Yang kugubah dengan untaian nada
Ini adalah gurat
Curahan asaku yang tersurat
Tetesan peluh dan keringat
Dariku, setiap saat
(no tittle)
“Hai, murid baru juga ya? Disini masih kosong kok. Duduk aja,” ujarnya sembari tersenyum.
“Wah, makasih ya. Tau aja gue lagi bingung nyari bangku,”
“Kenalin, gue Rena,”
“Angel,” balas Angel.
*#*
Walaupun Angel dan Rena bersahabat, sifat mereka sangatlah bertolak belakang. Rena adalah seorang gadis yang anggun, luwes, ramah, dan peduli terhadap sesama. Dia pun sederhana dan rajin. Sorot matanya memancarkan kewibawaan dan keceriaan. Sedangkan Si Cantik Angel, yang menjadi primadona di SMA Bakti Persada, sangatlah sombong dan menjaga jarak. Angel acap kali melontarkan komentar negatif terhadap sesuatu. Dia sangat jarang memuji seseorang. Bahkan bisa dibilang tidak pernah sama sekali. Tatapan matanya pun sinis.
Namun begitu, mereka terlihat sangat kompak dan akrab bagai kakak beradik. Dimana ada Angel disitu pasti ada Rena. Mereka juga pintar. Prestasi mereka bersaing di tiga besar paralel SMA Bakti Persada.
“Hai Rena... Eh, semeteran kemarin lo ranking berapa? Pasti bagus kan?” tanya Nay ramah. Dia teman satu kelasnya pada saat perjalanan menuju kelas.
“Wah, gue lupa. Lo sendiri ranking berapa?” jawab Rena berusaha merendah.
“Ah, biasa aja. Jauh deh ame elu. By the way, lo gimana Ngel?” tanya Nay pada Angel.
“Pasti bagus dong! Ranking 2 nih! Gue gitu loh! Emang elo yang selalu di periode 30-an!” Kata Angel menyombongkan diri.
“Wah, gue ikut seneng! Yah, walaupun di periode 30-an nggak apa-apa laah. Namanya juga masih belajar. Hehe,” jawab Nay santai.
Setelah Nay pergi, Rena mengingatkan Angel mengenai sifatnya yang sombong.
“Ngel, bukannya gimana ya, tapi kayaknya lo kudu kurangin sifat elo yang sombong itu deh. Soalnya itu kan demi kebaikan lo juga. Kalo gue sih biasa aja lu gituin karena gue udah tau tipikal lo orangnya kaya gimana. Tapi temen-temen yang laen kan belum tentu bisa terima,” kata Rena
“Ya ampun Rena, udah deh biasa aja kaleee! Mereka aja diem aja, eh elo malah repot. Gue sih malah kasian elo capek-capek nasehatin gue. Umm, ke kantin yuk? Lapeeerrr nih! Seharian belom makan gue,” pinta Angel memelas.
“Traktir?” tanya Rena.
“Iya... Iyaaa.... Elo kaya nggak tau gue aja,” balas Angel.
*#*
Tahun ajaran baru pun tiba. Kebetulan Rena dan angel pun satu kelas lagi. Dan di sekolah Angel kedatangan seorang murid baru dari Amerika yang satu kelas dengannya. Namanya Mario. Dia putih, tinggi, macho, proposional, badannya pun tegap dan atletis. Giginya putih bersih dan rata seperti dikikir. Selain itu, Mario pun kaya dan pintar. Benar-benar tipikal cowok sempurna dimata Angel dan semua cewek lainnya, kecuali bagi Rena.
“Renaaaa.............. Hunny-bunny-sweetykuu, elo tau nggak sih? Cowok baru itu looh, yang pindahan dari Amrik. Gilaaa, keren bangeeeettt!!!!!” ucap Angel heboh sambil berlari mengejarnya.
“Yang mana sih?” tanya Rena acuh.
“Aduh sayang, yang ganteng, macho, atletis, tinggi, putih, en pinter itu...,” kata Angel bertubi-tubi kepada Rena saat mereka berjalan menuju perpustakaan sekolah.
“Yang mana? Gue nggak mudeng deh sama orang yang lo maksud,” jawab Rena.
Karena keasyikan ngobrol, mereka berdua bertabrakan dengan seseorana yang tidak mereka duga sama sekali.
“Helloooo....!!!!!! PUNYA MATA NGGAK SSSsssss.........,” bentak Angel.
“I’m sorry. It’s my fault. Did you hurt?” jawab orang itu sambil berusaha menolong Angel dan Rena.
“We’re okay. But please, when you are walking, please use your eyes too. Not just using your foot. Excuse me,” kata Rena tegas namun sopan.
“Sori banget. Tapi kalian nggak pa pa kan? Tadi gue lagi telfon lemen gue yang di Amrik. Jadi gak terlalu merhatiin jalan en ganggu kalian deh. Sori ya?” ucap Mario.
“Oke, kita maafin. Tapi imbalannya elo kudu traktir kita. Gimana?” tantang Angel.
“Oke deh,” jawab Mario.
“Sori, tapi kayaknya gue nggak bisa deh. Gue harus ngerjain tugas di perpus,” tolak Rena secara halus.
“Oh girls, come on! Ga apa apa lah! Itung-itung sebagai wujud permintaan maaf gue. Ngomong-ngomong, kita belom kenalan nih. Kenalin, gue Mario. Gue murid baru disini. Kalian?” tanyanya.
“Gue Angel dan ini sohib gue, Rena. Kita temenan sejak kelas satu SMA dan udah lengket kayak perangko,” jawab Angel.
“Eh, kalian yang di kelas XI IPS 1 kan? Wah, berarti kita sekelas dong? Hmm, gimana kalo kita temenan? Gue belom punya temen nih disini..” tawar Mario sok akrab.
Mendengar itu, Angel menyikut Rena dengan semangat.
“Gimana Ren?” tanya Angel.
“Well, terserah elo aja deh,” jawab Rena sambil mengangkat bahu.
“Oke, kita temenan. Janji?” kata Mario.
“Janji kelingking,” ucap Rena dan Angel bersamaan sambil bergantian memautkan jari kelingking mereka dengan jari kelingking Mario.
Setelah itu mereka pun pergi ke kantin sekolah.
*#*
Semenjak kejadian itu, Mario, Rena, dan Angel semakin akrab. Mereka sering hang-out bersama, ngerjain tugas bareng, bahkan curhat. Seiring berjalannya waktu, perasaan lain selain mulai tumbuh di hati Angel dan Mario. Angel sangat menyayangi dan mencintai Mario. Lebih dari seorang sahabat.
“Ren, do him love me?”
“Who?”
“Mario.”
“I don’t know his heart. I can’t open it to show you for your curious. Tapi kalo diliat dari sikapnya kayaknya iya deh.”
“So, will we... Umm you know laah, can we be a soulmate later?” tanya angel penuh harap.
“I hope so! Hei Angel, just see! Mario cares to you, isn’t he? He loves you I guess. Believe me, he’ll know your feeling to him later. Patience, you need it hunny,” jawab Rena menenangkan.
“Okelaaah. I believe you ya! Tapi elo ada feel nggak sih sama dia?”
“Nggak ah, biasa aja. Kan temen,” jawab Rena santai.
*#*
“Eh, ntar jadi jalan kemana?” Tanya Mario
“Gimana kalo ke Amplas aja? Aku mau beli tas baru nih,” sahut Angel.
“Loh, trus ntar makalah ekonomi dari Bu Nia gimana? Gue masih kurang setengah nih!” ujar Rena
“Ya ampuun! Gue juga! Thanks ya udah ngingetin. Gimana kalo ntar abis jalan kerumah gue? Bokap-nyokap gue baru ke Kalimantan. Kakak gue kuliah sampe sore. Temenin gue dong, sekalian ngerjain makalah bareng,”
“Oke, tapi bentar aja ya beli tasnya?” tawar Rena.
“Iya. Paling juga cuma setengah jam, Neng,” kata Mario.
“Hmmm, okelah. Buat kalian apa sih yang nggak dari gue?”
“Idiiiiihhhhh, gaya loooo!!! Hahaha....,” ledek Angel dan Mario bersamaan.
*#*
Mereka pun melaju ke AMPLAZ menggunakan Toyota Yaris kepunyaan Mario. Disana mereka berkeliling mencari tas untuk Angel.
“Enaknya beli dimana ya?” tanya Angel.
“Coba di situ tuh. Kayaknya bagus-bagus,” kata Rena ketika melihat toko tas yang lumayan bagus dan komplit koleksinya.
Mereka pun masuk di toko tas tersebut. Setelah memilih-milih tas, Rena pun menemukan tas yang cocok.
“Mbak, aku beli yang ini deh. Berapa totalnya?”
“Totalnya Rp 350.000 kak, ini barangnya. Terimakasih telah berbelanja di toko kami,” kata pelayan toko itu.
*#*
Di rumah Angel...
“Eh, makalah gue kurang lampiran nih. Ada yang punya gambar gak? Bagi dong!” kata Mario.
“Nih, tapi jangan semuanya ya. Ntar nilai gue dikurangin lagi sama Bu Nia,” jawab Rena.
“Sip deh! Thanks ya,”
“Eh, kalian mau minum apa?” tanya Angel lupa.
“Terserah lo aja deh,” jawab Mario.
“Mm... Apa aja deh,”
“Yaudah gue beli softdrink di minimarket sebelah dulu ya.
Saat Angel pergi membeli softdrink, Mario merasa inilah saat yang tepat untuk mengutarakan perasaan sukanya kepada Rena. Sudah semenjak lama ia memendam perasaan itu. Namun ia tidak berani untuk mengutarakannya kepada Rena karena dia takut itu akan merusak persahabatan mereka. Dia pun tidak menyadari bahwa Angel-lah yang selama ini mencintainya sepenuh hati, sedangkan Rena menganggapnya tidak lebih daripada sahabat baiknya.
“Ren....,”
“Hmm... Kenapa Yo?”
“Gue pengen ngomong...,”
“Yaudah ngomong aja,” kata Rena yang asih berkutat dengan laptopnya.
“Ren, gue serius,”
“Iya, mau ngomong apa Mario?” sekarang Rena sudah menyelesaikan makalahnya.
“Mmm... Gue... Gue suka sama lo,”
Mendengar hal itu, Rena sangat kaget. Disaat yang bersamaan, Angel telah selesai membeli softdrink dan berada di ambang pintu. Dia pun tak sengaja mendengar pernyataan Mario kepada Rena. Namun, angel berusaha menyembunyikan semua itu.
“Hai semua, hayoo abis pada ngapain nih? Kayaknya kaku gini. By the way, nih minumnya. Ntar gelas sama esnya ambil sendiri di dapur ya guys,” kata Angel.
*#*
Semenjak kejadian itu, baik sikap Angel, Rena, maupun Mario berubah total. Bagai ada jarak diantara mereka bertiga. Rena merasa tidak enak dengan Angel. Selain itu, dia merasa Angel menjadi tertutup dan menjauhinya. Begitu pula dengan Angel. Walaupun dia berusaha menutupi bahwa dia mendengar percakapana antara Rena dan Mario, dia menjadi sedikit menjaga jarak dengan keduanya. Mario pun jadi sering salah tingkah.
Suatu pagi Rena memberanikan diri bertanya kepada Angel.
“Ngel, elo kenapa sih sama gue?”
“Harusnya gue yang tanya kaya gitu ke elo,” jawab Angel dingin.
“Maksud lo apa Ngel?”
“Maksud gue, harusnya gue yang tanya ke elo, kenapa elo tega hianatin gue?”
“Bentar... Gue nggak ngerti deh. Gue ada salah ya ke elo?”
“Lo pikir aja sendiri!” bentak Angel ketus.
Melihat Angel yang begitu sinis dengannya, Rena merasa bahwa Angel sudah mendengar tentang percakapannya dengan Mario.
*#*
“Yo, kayanya ada yang perlu kita omongin deh,” kata Angel kepada Mario.
“About what?”
“First, bukannya gue nggak tertarik sama lo. All of people around our school know, lo itu cakep, tajir, keren, pinter, baik, menarik, supel dan bahkan semua kesempurnaan cowo itu ada di elo. Bahkan seisi sekolah pun naksir berat ke elo,” Rena berhenti beberapa saat.
“And then?”
“Dan gue akui, gue pun tertarik sama lo. Gue juga sayang sama lo. Tapi maaf, gue nggak bisa nerima lo sebagai pacar gue,”
“Tapi kenapa Ren?”
“Karena gue anggep elo sebagai sahabat gue. Gue sayang sama loe sebagai sahabat gue. Dan elo pun tau kan komitmen gue selama ini? Gue nggak akan pacaran sebelum tiba saat yang tepat,” jelas Rena tegas.
“Tapi kapan saat itu tiba Ren?”
“Gue juga nggak tau. Saat gue kuliah maybe. And Man, did you understand something? Yang patut elo cinta itu Angel, bukan gue.”
“Maksud lo apa?”
“Sejak kepindahan lo kesini, Angel udah ngefans berat sama lo. Dan sejak kita sahabatan, dia semakin tambah sayang dan cinta sama elo. Dan gue rasa dia udah tau tentang ini. Sikap dia jadi berubah ke gue. Gue rasa, kita harus jelasin ke dia deh,” kata Rena.
*#*
Sore itu di starbucks coffee.....
“Ngel, gue tau elo sebel sama gue, elo benci sama gue, dan segala macem. Tapi please, dengerin penjelasan gue sekali ini aja. Gue nggak pengen persahabatan kita ancur!”
“So, what you want?”
“Please forgive me. Ini tentang gue, elo dan Mario. And I know what my fault. Gue nggak kasih tau elo sejak dia nembak gue. Waktu dirumah lo, dia nyatain perasaannya ke gue. Tapi gue belom jawab. Dan akhirnya kemarin gue jawab. Gue gak bisa terima dia. Rasa sayang gue ke dia cuma sebatas sahabat aja. Nggak lebih. Elo harus percaya kalo gue nggak ada feel sama dia. Gue sadar elo mungkin jadi beda karena itu. Elo percaya kan Ngel sama gue?”
“Should I believe your words for our friendship? I doubt if you told me the truth.”
“Did you think I’ve lie to you?” ucap Rena tak percaya.
“Emang kenapa kalo iya? Apa peduli lo?” kata Angel pedas, “Selama ini elo selalu nyemangatin gue, bilang kalo elo nggak akan pernah suka sama Mario, nggak akan pernah caper sama Mario, dan elo juga selalu nekanin ke gue kalo DIA suka sama gue, care sama gue! Tapi kenyataannya??! Hah! LIAR! Apa yang gue dapet sekarang??!! Munafik lo!!!!” ucap Angel menusuk hati Rena. Dia langsung lari meninggalkan Rena yang hanya bisa terpaku menatap punggung sahabatnya.
“Apa emang udah seburuk itu gue di mata elo Ngel? Gue bener-bener tulus mau minta maaf ke elo...” sesal Rena dalam hati. Air matanya pun meleleh.
*#*
Dear diary,
Gue benci hari ini! Gue benci Mario! Gue benci Rena!
Rena ngehianatin gue! Dia tau gue udah lama suka sama Mario. Tapi dia boongin gue! Dan bodohnya Mario suka sama dia, bukan GUE!!! Seminggu yang lalu MARIO nembak dia disini, tepat di kamar ini, di KAMAR GUE!!
Dia sering bilang,”Angel, just see, Mario cares to you. He loves you. Believe me, he’ll know your feeling to him later. Patience, you need it hunny.”
Hati gue sakit! Sakit tiap inget itu. Sakit tiap inget Mario. Sakit tiap inget persahabatan kita! Apa yang harus gue lakuin lagi sekarang? Gue udah nggak punya sahabat yang bisa gue percaya lagi. Siapa temen gue di dunia nyata sekarang? –selain elo....
Gue takut di, takut banget! Do you believe if afraid can kill s’mone? .
Love
Angella Marriana Phill.
*#*
Pagi hari ketika tiba di sekolah, Angel menemukan sebuah amplop bergambar ‘Hello Kitty’ di mejanya. Tanpa pikir panjang, dia pun langsung memungut dan membacanya.
Sungguh aku tak tahu sahabatku
Apa yang buatmu pilu
Saat itu...
Sungguh aku tak mengerti
Mengapa engkau begitu membenci
Aku lumpuh terpeluk peluh sahabatku
Aku lelah yang rebah...
Aku ingin mengerti
Tapi Aku bukan dusta yang hina!
Aku pun tiada ingin menyakiti
Hatimu, pun hatinya
Maaf...
Maukah kau memberiku kata itu?
Kali ini saja.
Atau haruskah aku meminta?
Kali ini aku tak mengemis
Karena aku lebih dari mengemis
Aku, pengemis maafmu.
Maafin gue. Gue bener-bener minta maaf Ngel. Diantara gue sama Mario nggak ada hubungan apapun! Elo boleh miliki dia. Seutuhnya! Percaya gue Ngel! Please.... Kita bisa kan sahabatan lagi?
Karenna Mutia
*#*
Tiga hari kemudian....
“Hai...,” sapa Angel.
“Ngel, I’m so sorry. Believe me about Rio,” kata Rena
“Maksud lo?”
“Nggak pernah ada niat dari gue buat nyakitin Mario maupun elo. Gue nggak pengen persahabatan kita bertiga ancur. Elo tau kan komitmen gue selama ini?” jelas Rena.
“Well, gue masih marah sama elo en Mario. Sori Ren, tapi susah buat gue maafin elo sama dia. Gue nggak bisa!” canda angel. Nada bicaranya yang ketus hanya pura-pura.
“Hahaha, don’t cry. Elo bikin gue ketawa aja. Hahaha,” kata Angel tertawa lepas.
“What do you mean with ‘don’t cry’ and ‘I make you laugh?’’”
“Setelah ada surat beserta puisi lo di meja gue, sorenya Mario dateng ke rumah. Dia coba jelasin dan bilang bla... bla.... en bla... Itu udah cukup buat gue percaya kalo diantara elo dan Mario emang nggak ada apa-apa. Elo juga nggak hianatin gue. Gue yang terlalu gegabah nuduh elo sama Mario yang nggak bener. Padahal kalian udah baik banget sama gue. Gue minta maaf ya?” kemudian, Angel memeluk Rena.
“Oooohhhhh, so sweeeettt......” sahut sebuah suara yang ternyata Mario.
Setelah bertangis-tangisan dan bermaaf-maafan ria, Angel dan Rena bersahabat lagi. Begitu pula dengan Mario.
“Ren, Ngel, gue mita maaf ya kalo pernah ada salah ke kalian. Bukan maksud gue untuk nyakitin kalian satu sama lain. Waktu dirumah elo itu pun gue nggak pikir panjang. I apologize for my mistakes. I know it’s hurt you all. I’m really sorry,” sesal Mario
“Udah nggak pa pa. Di dunia ini nggak ada yang sempurna. Dan nggak semua keinginan kita itu harus tercapai. Lagipula, gue belajar banyak dari kalian dan masalah ini. Gue pun terlalu naif sama diri gue sendiri. Nggak bisa terima kenyataan. Tapi mulai sekarang, gue janji bahwa gue akan berusaha lebih baik lagi. Gue sayang kalian,” ucap Rena.
“Oooohhhhh, so sweeeettt...... Hahaha” canda Mario dan Rena bebarengan.
“And I’m okay. Gue juga salah kok. Gue juga minta maaf sama kalian. Maafin gue ya guys,” pinta Rena
“Hellooo..... Sori ya ikut nimbrung. Tapi gimana kalo kalian bertiga baikan aja? Kelas kita jadi sepi tau nggak sih kalo kalian marahan en diem-dieman gitu!” sahut Riko, si kapten basket sekolah dan teman sebangku Mario.
*#*
Dear diary,
Gue seneng banget hari ini. Sekarang gue udah baikan sama Rena en Mario. Persahabatan kita juga jadi lebih erat. Gue belajar banyak dari masalah itu. Gue kudu lebih sabar dan nggak gegabah. Gue saayyyaaaaang mereka :*! .
In fact, bener apa yang selama ini dibilang Rena ke gue. Gue terlalu angkuh, sombong, dan semena-mena. Itu yang bikin Mario nggak tertarik sama gue.(walaupun actually I more beuty and pretty than her, huh!) Beda sama Rena yang lembut, anggun, ramah, ceria, dan sederhana. Dan satu lagi. Teen is NOT about love enough!! Gue nggak cukup makan CINTA! Hidup gue masih panjang. Dan nggak perlu bagi gue berbuat buruk cuma gara-gara my PUPPY LOVE when I was on my senior high school. It’s not important enough laah! Masih banyak pangeran-pangeran lain selain Mario lagi. Rrrawrrr...!!!
Umm... By the way, tau riko nggak? Dia kapten basket sekolah. Tadi dia bilang kalo gue CANTIK di!(emang dasarnya gue cantik gini siih:P hehe). Malem minggu besok dia ngajakin gue jalan. Gue sih mau-mau aja(Hope it will be nice of course! ).
And Generally, today is so fantastic!
I feel so sleepy riht now! I wanna sleep. Have a nice sleep ya! .
Love
Angella Marriana Phill.
*THE END*
Lilin Pencerah
Bapakku adalah seorang pekerja keras yang tekun, ulet, dan pintar. Sejak kecil, dia dididik untuk mandiri dan bekerja keras. Tidak ada kata santai dalam hidupnya. Seperti sekarang ini. Walaupun sudah bekerja sebagai seorang pegawai negeri, baginya itu masih belum cukup. Bapakku selalu menanamkan kepadaku bahwa hidup itu harus selau bekerja keras dan berusaha.
“Rum, hidup itu keras. Ada saat dimana bapak dan ibu nggak selalu bisa mencukupi kebutuhanmu. Kowe kudu bisa mandhiri. Jangan mengandalkan bapak dan ibu yang bekerja. Masa depanmu tergantung padamu. Jangan pernah mau dikendalikan dunia, tapi kendalikanlah dunia dibawah belenggumu. Dan jangan pernah lemah padanya, karena jika kau lemah, maka dunia yang akan keras padamu. Tapi keraslah, maka dunia akan lunak dan belenggu itu semakin mudah kau raih,”
Itu yang selalu dikatakan bapak padaku. Memang itu hanyalah sebuah filosofi sederhana yang sudah banyak diketahui orang. Tapi jika kita cermati, itu merupakan petuah yang sangat berharga untuk diriku kelak. Bapak menginginkan aku menjadi seorang yang tangguh dalam hidup dan bertanggung jawab terhadap masa depanku sendiri. Dia tidak ingin aku mejadi pribadi yang malas dan lemah.
*#*
Selain menanamkan nilai kerja keras, tekun, ulet, dan tanggung jawab yang tinggi, bapakku pun mengajarkanku untuk menjadi seorang yang taat beragama. Dia selalu menyuruhku untuk taat sholat lima waktu dan meyempatkan membaca ayat suci Al-Qur’an selepas sholat.
Suatu hari, Bapak melihatku menonton sebuah drama asia di salah satu TV swasta.
“Udah sholat Asar?” tanya Bapakku.
“Belum. Bentar lagi Pak,” jawabku.
“Jam berapa ini? Sudah jam setengah lima dan kamu belum sholat?”
“Tapi ini filmnya bagus. Ntar ah, tunggu iklan,” elakku.
Kulihat sorot kecewa di mata bapakku. Tapi dia mendiamkanku. Dia jarang berbicara panjang lebar. Jika tidak suka, akan jelas terlihat di raut mukanya. Namun Bapak tidak pernah mengatakan kapan dia marah, kecewa, maupun penyebabnya. Setelah bertanya kepadaku, Bapak melanjutkan sholatnya.
Saat iklan, aku segera mengambil air wudhu dan sholat asar. Tiba-tiba, Bapak memanggilku.
“Ningrum, wis shalat?”
“Udah Pak, pripun?” tanyaku.
“Kowe ki jane niat ora to dadi wong Islam?”
“Nggih niat, Pak,”
“Lha kok senengane nunda-nunda shalat? Apa iya kuwi sing jenenge niat? Kalau kamu memang merasa berat menjadi seorang muslim dan tidak sanggup menjalankan syariatnya, mbok ya sudah murtad saja. Sekalian kamu menjadi pemeluk agama lain. Entah Katolik, Kristen, Hindu, ataupun Budha, silakan. Bapak membebaskan. Tapi hanya satu yang bapak minta, jadilah pemeluk agama yang taat!”
Saat itu, aku sadar bahwa bapakku kecewa dan marah melihat aku menunda shalat namun mementingkan sebuah acara di televisi.
“Nggih, Pak. Besok nggak ngulangi lagi.”
“Walaupun bapak selalu menanamkan kerja keras, dan hal-hal duniawi lainnya, kamu harus tetap bertanggung jawab sama Gusti Allah. Kita udah diciptakan dengan tubuh yang sempurna, maka kita wajib bersyukur. Apa tindakanmu tadi mencerminkan sikap syukur kepada Tuhan?”
“Mboten, Pak,” jawabku
“Pernah kamu baca Al-Qur’an? Seberapa sering?” tanya Bapak.
“Kalau ada pelajaran agama disekolah,”
“Selebihnya?”
“Ya jarang, Pak,”
“Kitab suci itu mbok dibaca. Kamu udah dikasih mata dan tangan, kenapa apa nggak digunakan untuk hal yang baik?”
“Kamu pasti mempunyai mimpi to, Dik? Tuhan itu tau kok apa yang diinginkan umatnya. Tapi Dia ingin kita taat kepadaNya dan tidak berhenti berusaha. Kalau kamu melakukan hal yang wajib seperti sholat saja masih menunda, maka Tuhan juga akan menunda mewujudkan mimpimu. Hidup jangan hanya kamu isi untuk bermalas-malasan seperti itu,” lanjut Bapak.
“Ndhuk, kamu tau kan apa maksud bapakmu? Bapak sama Ibu itu pengen kamu jadi anak yang bener, yang pinter, berbakti sama orang tua, dan jadi anak yang sholehah. Kamu itu sudah besar, isilah hari dan hidupmu dengan kegiatan yang positif,” sambung Ibu.
*#*
Bapak dan ibuku tidak pernah memaksakan kehendakku. Mereka memberi masukan dan mengarahkanku untuk meraih cita citaku. Orang tuaku bukanlah orang tua yang otoriter dan keras. Mereka menginginkan aku menjadi anak yang taat beragama karena mereka ingin agar hidupku seimbang antar kehidpan beragam adengan kehidupan sosial.
“Hidup itu harus seimbang. Kamu nggak boleh hanya mengandalkan kecerdasanmu, ketekunanmu, kerja kerasmu tapi tanpa dasar agama. Tidak akan ada gunanya semua itu jika Tuhan tidak meridhoimu dan bersamamu.”
*#*
Kami mempunyai sebuah toko kelontong dan sebuah warung makan. Keduanya kami kelola bersama-sama. Menurut bapak, itu dia persiapkan agar aku dan adikku bisa bekerja mandiri, tidak terpancang untuk menjadi seorang pegawai.
“Kamu jangan malu kalau bertemu dengan temanmu ketika sedang melayani pembeli. Bapak membuka warung dan toko itu demi kamu. Kamu dan adikmu harus bisa bekerja. Putarlah akalmu agar menjadi orang yang kreatif. Jangan menjadi anak yang manja. Di dunia ini nggak ada tempat untuk orang yang manja dan malas. Jangan terpancang kalau bekerja harus menjadi pegawai negeri. Hidup jaman sekarang susah kalau hanya puas menjadi pegawai saja. Kalau pun menjadi pegawai, kamu pun harus mengembangkan karirmu.”
Jika aku lelah dan berhenti, bapaklah yang menyemangatiku untuk terus berlari.
“Kamu liat nggak bapak ngapain? Bapak kerja keras demi kamu dan adikmu. Kalau kerjamu cuma jatuh, menyesal, dan tanpa upaya memperbaiki diri, apa jadinya kamu besok? Masa masih mengandalkan orang tua? Kapan kamu bisa mandiri? Apa kalau Bapak dan Ibu mati kamu juga akan ikut mati?” bentak Bapak.
“Ya nggak, Pak. Masa iya aku ntar mati juga,” jawabku.
“Tapi coba liat apa yang kamu lakukan sekarang? Nggak dewasa samasekali. Memalukan!”
Pedas memang ucapan bapakku. Tapi aku sadar bahwa itu demi kemajuanku. Jadi aku selalu berusaha untuk mematuhinya.
*#*
Berbeda dengan Bapak yang selalu menanamkan keuletan dan kerja keras, Ibu selalu menanamkan kemampuan untuk mengontrol perasaan. Aku tidak boleh larut dalam emosi.
“Jadi orang itu yang sabar, yang legowo, ngalah, manut tatanan. Aja golek lega, amarga kowe mengko mesthi bakal kuciwa. Pepinginan iku ora mesthi kudu keturutan, ndhuk. Dan lagi, orang yang ngalah itu belum tentu kalah. Nggak semua hal bisa kamu selesaikan dengan emosi. Dalam hidup, kamu pun memerlukan ketahanan dan kemampuan mengontrol emosi,”Walaupun nasihat ibu hanya sedikit, namun itu sangat berarti bagiku.
*#*
Bapakku dan ibuku memang dua pribadi yang berbeda. Namun tujuan mereka satu, membimbingku untuk mengisi hari-hariku dengan hal yang positif agar kelak berguna untuk masa depanku.
Bagiku, mereka bagai lilin pencerah yang menerangiku disaat aku berjalan dalam gelap. Mereka adalah orang yang paling setia menemaniku dalam suka ataupun duka, dan mereka adalah orang yang paling mampu menerima segela kekuranganku.
Dan tepat di hari ini, bapakku berulang tahun yang ke-50. Selamat ulang tahun bapak. Terimakasih karena udah didik Ningrum, ngebesarin sampai sejauh ini, dan sabar menghadapi kenakalan Ningrum. Maaf, Ningrum belum bisa kasih apapun selama ini. Ningrum belum bisa jadi anak yang sholeh, pinter, mandiri, bahkan untuk bekerja keras pun masih tertatih. Untuk Ibu, terimakasih udah melahirkan, mendidik, sekaligus membesarkan Ningrum. Maaf kalau kadang kadang Ningrum belum bisa sabar, ngalah, dan ngontrol emosi. Tapi, satu hal yang perlu kalian tau, Ningrum sayang kalian!
Kahlil Gibran

Khalil Gibran (juga dieja Khalil Gibran; lahir Gibran Khalil Gibran, bahasa Arab: جبران خليل جبران, (6 Januari 1883 – 10 April 1931) adalah seorang seniman, penyair, dan penulis Lebanon Amerika. Ia lahir di Lebanon (saat itu masuk Provinsi Suriah di Khilafah Turki Utsmani) dan menghabiskan sebagian besar masa produktifnya di Amerika Serikat.
Libanon
Kahlil Gibran lahir di Basyari, Libanon dari keluarga katholik-maronit. Bsharri sendiri merupakan daerah yang kerap disinggahi badai, gempa serta petir. Tak heran bila sejak kecil, mata Gibran sudah terbiasa menangkap fenomena-fenomena alam tersebut. Inilah yang nantinya banyak mempengaruhi tulisan-tulisannya tentang alam.
Pada usia 10 tahun, bersama ibu dan kedua adik perempuannya, Gibran pindah ke Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. Tak heran bila kemudian Gibran kecil mengalami kejutan budaya, seperti yang banyak dialami oleh para imigran lain yang berhamburan datang ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Keceriaan Gibran di bangku sekolah umum di Boston, diisi dengan masa akulturasinya maka bahasa dan gayanya dibentuk oleh corak kehidupan Amerika. Namun, proses Amerikanisasi Gibran hanya berlangsung selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali ke Beirut, di mana dia belajar di Madrasah Al-Hikmat sejak tahun 1898 sampai 1901.
Selama awal masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk. Kesultanan Usmaniyah yang sudah lemah, sifat munafik organisasi gereja, dan peran kaum wanita Asia Barat yang sekadar sebagai pengabdi, mengilhami cara pandangnya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab.
Gibran meninggalkan tanah airnya lagi saat ia berusia 19 tahun, namun ingatannya tak pernah bisa lepas dari Lebanon. Lebanon sudah menjadi inspirasinya. Di Boston dia menulis tentang negerinya itu untuk mengekspresikan dirinya. Ini yang kemudian justru memberinya kebebasan untuk menggabungkan 2 pengalaman budayanya yang berbeda menjadi satu.
Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari tahun 1901 hingga 1902. Tatkala itu usianya menginjak 20 tahun. Karya pertamanya, "Spirits Rebellious" ditulis di Boston dan diterbitkan di New York City, yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keras yang menyerang orang-orang korup yang dilihatnya. Akibatnya, Gibran menerima hukuman berupa pengucilan dari gereja Maronit. Akan tetapi, sindiran-sindiran Gibran itu tiba-tiba dianggap sebagai harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di Asia Barat.
Masa-masa pembentukan diri selama di Paris cerai-berai ketika Gibran menerima kabar dari Konsulat Jendral Turki, bahwa sebuah tragedi telah menghancurkan keluarganya. Adik perempuannya yang paling muda berumur 15 tahun, Sultana, meninggal karena TBC.
Gibran segera kembali ke Boston. Kakaknya, Peter, seorang pelayan toko yang menjadi tumpuan hidup saudara-saudara dan ibunya juga meninggal karena TBC. Ibu yang memuja dan dipujanya, Kamilah, juga telah meninggal dunia karena tumor ganas. Hanya adiknya, Marianna, yang masih tersisa, dan ia dihantui trauma penyakit dan kemiskinan keluarganya. Kematian anggota keluarga yang sangat dicintainya itu terjadi antara bulan Maret dan Juni tahun 1903. Gibran dan adiknya lantas harus menyangga sebuah keluarga yang tidak lengkap ini dan berusaha keras untuk menjaga kelangsungan hidupnya.
Di tahun-tahun awal kehidupan mereka berdua, Marianna membiayai penerbitan karya-karya Gibran dengan biaya yang diperoleh dari hasil menjahit di Miss Teahan's Gowns. Berkat kerja keras adiknya itu, Gibran dapat meneruskan karier keseniman dan kesasteraannya yang masih awal.
Pada tahun 1908 Gibran singgah di Paris lagi. Di sini dia hidup senang karena secara rutin menerima cukup uang dari Mary Haskell, seorang wanita kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua namun dikenal memiliki hubungan khusus dengannya sejak masih tinggal di Boston. Dari tahun 1909 sampai 1910, dia belajar di School of Beaux Arts dan Julian Academy. Kembali ke Boston, Gibran mendirikan sebuah studio di West Cedar Street di bagian kota Beacon Hill. Ia juga mengambil alih pembiayaan keluarganya.
Amerika Serikat
Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota New York. Di New York Gibran bekerja di apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.
Sebelum tahun 1912 "Broken Wings" telah diterbitkan dalam Bahasa Arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada seorang muridnya. Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang uskup yang oportunis. Karya Gibran ini sering dianggap sebagai otobiografinya.
Pengaruh "Broken Wings" terasa sangat besar di dunia Arab karena di sini untuk pertama kalinya wanita-wanita Arab yang dinomorduakan mempunyai kesempatan untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yang memiliki hak untuk memprotes struktur kekuasaan yang diatur dalam perkawinan. Cetakan pertama "Broken Wings" ini dipersembahkan untuk Mary Haskell.
Gibran sangat produktif dan hidupnya mengalami banyak perbedaan pada tahun-tahun berikutnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga terus menyempurnakan penguasaan bahasa Inggrisnya dan mengembangkan kesenimanannya. Ketika terjadi perang besar di Lebanon, Gibran menjadi seorang pengamat dari kalangan nonpemerintah bagi masyarakat Suriah yang tinggal di Amerika.
Ketika Gibran dewasa, pandangannya mengenai dunia Timur meredup. Pierre Loti, seorang novelis Perancis, yang sangat terpikat dengan dunia Timur pernah berkata pada Gibran, kalau hal ini sangat mengenaskan! Disadari atau tidak, Gibran memang telah belajar untuk mengagumi kehebatan Barat.
Karya dan kepengarangan
Sebelum tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan karya pertamanya dalam bahasa Inggris, "The Madman", "His Parables and Poems". Persahabatan yang erat antara Mary tergambar dalam "The Madman". Setelah "The Madman", buku Gibran yang berbahasa Inggris adalah "Twenty Drawing", 1919; "The Forerunne", 1920; dan "Sang Nabi" pada tahun 1923, karya-karya itu adalah suatu cara agar dirinya memahami dunia sebagai orang dewasa dan sebagai seorang siswa sekolah di Lebanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun tidak dipublikasikan dan kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam bahasa Inggris pada tahun 1918-1922.
Sebelum terbitnya "Sang Nabi", hubungan dekat antara Mary dan Gibran mulai tidak jelas. Mary dilamar Florance Minis, seorang pengusaha kaya dari Georgia. Ia menawarkan pada Mary sebuah kehidupan mewah dan mendesaknya agar melepaskan tanggung jawab pendidikannya. Walau hubungan Mary dan Gibran pada mulanya diwarnai dengan berbagai pertimbangan dan diskusi mengenai kemungkinan pernikahan mereka, namun pada dasarnya prinsip-prinsip Mary selama ini banyak yang berbeda dengan Gibran. Ketidaksabaran mereka dalam membina hubungan dekat dan penolakan mereka terhadap ikatan perkawinan dengan jelas telah merasuk ke dalam hubungan tersebut. Akhirnya Mary menerima Florance Minis.
Pada tahun 1920 Gibran mendirikan sebuah asosiasi penulis Arab yang dinamakan Arrabithah Al Alamia (Ikatan Penulis). Tujuan ikatan ini merombak kesusastraan Arab yang stagnan. Seiring dengan naiknya reputasi Gibran, ia memiliki banyak pengagum. Salah satunya adalah Barbara Young. Ia mengenal Gibran setelah membaca "Sang Nabi". Barbara Young sendiri merupakan pemilik sebuah toko buku yang sebelumnya menjadi guru bahasa Inggris. Selama 8 tahun tinggal di New York, Barbara Young ikut aktif dalam kegiatan studio Gibran.
Gibran menyelesaikan "Sand and Foam" tahun 1926, dan "Jesus the Son of Man" pada tahun 1928. Ia juga membacakan naskah drama tulisannya, "Lazarus" pada tanggal 6 Januari 1929. Setelah itu Gibran menyelesaikan "The Earth Gods" pada tahun 1931. Karyanya yang lain "The Wanderer", yang selama ini ada di tangan Mary, diterbitkan tanpa nama pada tahun 1932, setelah kematiannya. Juga tulisannya yang lain "The Garden of the Propeth".
Kematian
Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis hepatis dan tuberkulosis, tapi selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent's Hospital di Greenwich Village.
Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun harus merawat suaminya yang saat itu juga menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri untuk melayat Gibran.
Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Mar Sarkis, sebuah biara Karmelit di mana Gibran pernah melakukan ibadah.
Sepeninggal Gibran, Barbara Younglah yang mengetahui seluk-beluk studio, warisan dan tanah peninggalan Gibran. Juga secarik kertas yang bertuliskan, "Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku."
from: wikipedia.org
Rabindranath Tagore

Rabindranath Tagore (bahasa Bengali: Rabindranath Thakur; lahir di Jorasanko, Kolkata, India, 7 Mei 1861 – meninggal 7 Agustus 1941 pada umur 80 tahun juga dikenal dengan nama Gurudev, adalah seorang Brahmo Samaj, penyair, dramawan, filsuf, seniman, musikus dan sastrawan Bengali. Ia terlahir dalam keluarga Brahmana Bengali, yaitu Brahmana yang tinggal di wilayah Bengali, daerah di anakbenua India antara India dan Bangladesh. Tagore merupakan orang Asia pertama yang mendapat anugerah Nobel dalam bidang sastra (1913).
Tagore mulai menulis puisi sejak usia delapan tahun, ia menggunakan nama samaran “Bhanushingho” (Singa Matahari) untuk penerbitan karya puisinya yang pertama pada tahun 1877, dan menulis cerita pendek pertamanya pada usia enam belas tahun. Ia mengenyam pendidikan dasar di rumah (Home Schooling), dan tinggal di Shilaidaha, serta sering melakukan perjalanan panjang yang menjadikan ia seorang yang pragmatis dan tidak suka/patuh pada norma sosial dan adat. Rasa kecewa kepada British Raj membuat Tagore memberikan dukungan pada Gerakan Kemerdekaan India dan berteman dengan Mahatma Gandhi. Dan juga dikarenakan rasa kehilangan hampir segenap keluarganya, serta kurangnya penghargaan dari Benggala atas karya besarnya, Universitas Visva-Bharati.
Beberapa karya besarnya antara lain Gitanjali (Song Offerings), Gora (Fair-Faced), dan Ghare-Baire (The Home and the World), serta karya puisi, cerita pendek dan novel dikenal dan dikagumi dunia luas. Ia juga seorang reformis kebudayaan dan polymath yang memodernisasikan seni budaya di Benggala. Dua buah lagu dari aliran Rabindrasangeet (sebuah aliran lagu yang ia ciptakan) kini menjadi lagu kebangsaan Bangladesh (Amar Shonar Bangla) dan India (Jana Maha Gana).
Masa Masa Awal (1861 - 1901)
Tagore memiliki nama kecil "Rabi", lahir di Jasanko Mansion, adalah putra dari Debendranath Tagore dan Sarada Devi,[ε] anak bungsu dari empat belas bersaudara. Setelah menjalani upacara Upanayanam di usia sebelas tahun, (suatu prosesi upacara yang menandai bagi seorang anak laki-laki untuk memasuki masa Brahmacari, masa menuntut ilmu.) Tagore bersama ayahnya meninggalkan Kolkata pada tanggal 14 Februari 1873 untuk melakukan perjalanan panjang di India selama beberapa bulan, mengunjungi Shantiniketan dan Amritsar sebelum mencapai Dalhousie, sebuah bukit peristirahatan di kaki Himalaya. Di sini, Tagore belajar sejarah, ilmu perbintangan (astronomi), ilmu pengetahuan modern dan Bahasa Sansekerta dan mempelajari serta mendalami karya sastra klasik dari Kālidāsa.[1][2] Pada 1877, ia menjadi orang terkemuka ketika menghasilkan beberapa karya, termasuk puisi panjang dalam gaya Maithili, yang dirintis oleh Vidyapati. Sebagai sekedar lelucon, ia menyatakan bahwa ini merupakan karya yang hilang dari Bhānusiṃha, sebuah sastra dari aliran Vaiṣṇava.[3] Ia juga menulis "Bhikharini" (1877; "Wanita Pengemis" — cerita pendek pertama dalam Bahasa Bengali)[4][5] dan juga “Sandya Sangit” (1882) — termasuk di dalamnya puisi yang sangat terkenal "Nirjharer Swapnabhanga" (The Rousing of the Waterfall).
Shantiniketan (1901—1932)
Pada tahun 1901, Tagore meninggalkan Shelidah dan pindah ke Shantiniketan (Benggala Barat) tinggal di Ashram yang didirikan oleh ayahnya pada tahun 1863, di sini mendirikan sebuah sekolah percobaan, sekolah di ruang terbuka, dengan pohon rindang, taman yang indah dan perpustakaan.[9] Dan di sini pula, istri ia serta dua orang anaknya meninggal. Ayah ia juga meninggal pada 19 Januari 1905. Setelah kepergian ayahnya, ia mulai menerima pendapatan bulanan sebagai bagian dari warisan orang tuanya; ia juga menerima pendapatan dari Maharaja Tripura, hasil dari penjualan perhiasan keluarga, dari rumah sewa di daerah Puri serta hak royalti atas karya-karyanya.[10] Melalui karya-karya ia memiliki banyak pengikut baik masyarakat Bengali, maupun pembaca di luar, dan ia mempublikasikan beberapa karya seperti "Naivedya" (1901) dan "Kheya" (1906) dan karya-karya puisi ia digubah menjadi puisi bebas, yang tidak lagi mengikuti pakem dan irama, tanpa menghilangkan ciri sebagai sebuah karya puisi. Pada tanggal 14 November 1913 Tagore memenangkan Penghargaan Nobel di Bidang Sastra. Menurut pihak Akademi Swedia sebagai penyelenggara, Tagore memenangkan Penghargaan Nobel berkat idealisme dalam berkarya dan karya-karyanya yang telah di terjemahkan ke dalam bahasa Inggris mudah diterima bagi pembaca di barat, termasuk diantaranya adalah: Gitanjali: Song Offerings (1912).[11] Sebagai tambahan, Kerajaan Inggris menawarkan gelar kebangsawanan pada tahun 1915; yang diterimanya, namun belakangan dilepaskan sebagai bentuk protes terhadap pembantaian massal di Amritsar, di mana tentara kolonial melakukan penembakan terhadap rakyat sipil tanpa senjata, membunuh sekitar 379 orang.
Pada 1921, Tagore bersama Leonard Elmhirst, seorang pakar ekonomi pertanian, mendirikan sekolah yang belakangan diberi nama Shriniketan di Surul, sebuah kampung dekat Asrama di Shantiniketan. Melalui ini ia sendiri bermaksud menyediakan tempat alternatif, bagi gerakan Swaraj, yang digalang Mahatma Gandhi yang mana sebelumnya gerakan ini sempat ia kritik.[12] Ia merekrut para sarjana, penyumbang dana serta pekerja dari berbagai negara untuk menjalankan sekolah ini. Membebaskan rakyat dari kemiskinan dan kebodohan dengan cara memperkuat diri di sektor pendidikan.[13][14] Pada tahun 1930an ia juga memberikan perhatian lebih terhadap kaum Dalit (kelompok kasta rendahan).[15][16]
Anak Bajang Menggiring Angin

Anak Bajang Menggiring Angin adalah sebuah novel fantasi pewayangan berbahasa Indonesia karya Sindhunata (atau "Rama Sindhu") yang diterbitkan tahun 1983 oleh Gramedia Jakarta. Novel ini merupakan novelisasi dari serial "Ramayana" yang dimuat di harian KOMPAS setiap hari Minggu di tahun 1981. Dengan beberapa perbaikan dan tambahan oleh Sindhunata, serial tersebut diterbitkan dalam bentuk buku ini. [1]
Buku ini telah dicetak ulang beberapa kali oleh Gramedia. Menurut catatan di akhir versi cetakan kedelapan (2007), beberapa pengamat mengatakan bahwa kekuatan buku ini terletak dalam bahasanya yang bergaya sastra, terutama dalam "corak liriknya yang puitis dan ritmis". [1] Judulnya sendiri, "Anak Bajang Menggiring Angin" (dalam bahasa Jawa, "Bajang" berarti "kecil", "kerdil", atau "cacat"; "Anak Bajang" berarti "anak yang sengaja dibuang orang tuanya") adalah sebuah metafor yang dapat diinterpretasi ke banyak arti oleh pembacanya. Perjalanan buku ini telah menjadikannya sebuah karya sastra Indonesia yang klasik, dimana beberapa potongan kisahnya telah menginspirasi lahirnya sejumlah karya seni tari dan teater di Indonesia. Di banyak SMU di Indonesia, buku ini dipakai sebagai bahan pelajaran di bidang sastra.
Latar belakang
Buku ini merupakan penyempurnaan dari "Kakawin Ramayana" dari versi pewayangan Jawa. Versi ini ditulis oleh Sindhunata dan dimuat di harian KOMPAS setiap hari Minggu di tahun 1981. Walaupun Sindhunata menulis buku ini dengan sumber dari kisah Ramayana yang populer di masyarakat budaya Jawa, kisah ini dapat dibilang baru karena yang digambarkan dalam buku ini adalah harapan-harapan dan kerinduan dari Sindhunata sendiri, yang diwarnai dan dilatarbelakangi kebudayaan Jawa di mana budaya wayang sangat berperan kuat dalam filsafat kehidupan sehari-hari. Sindhunata menggunakan tokoh-tokoh wayang "Ramayana" yang imajinatif tersebut untuk membantu menuangkan maksudnya tersebut.
Sindhunata menulis buku ini untuk menggugah dan membuat pembacanya berpikir tentang harga dan nilai sebuah cita-cita, di mana dia menampilkan sebuah kisah tentang impian yang seakan-akan tampil sebagai cita-cita dan sebaliknya. Bagi sebagian pengamat sastra, kisah buku ini adalah sebuah representasi perlawanan yang lemah dan tak berdaya menghadapi absurditas nasib dan kekuasaan.
Sinopsis
Dengan gaya bahasa sastra Sindhunata yang khas, penuh diwarnai imajinasi simbolik, dan dengan penggalian makna-makna filosofis yang dalam, buku ini menyajikan versi Jawa kisah Ramayana, menjadi sebuah penciptaan kembali kisah tradisional Ramayana ke dalam bentuk sebuah kisah sastra. Cerita dalam buku ini menampilkan suatu kisah yang mengandung sesuatu kemustahilan dan asing bagi pengalaman biasa, sesuatu impian kosong bila dipandang dari kenyataan keseharian manusia. Dengan kekuatan tersendiri kisah ini menampilkan impian-impian itu menjadi suatu jalinan kisah insani, yang membuat impian-impian itu tampil sebagai cita-cita yang dirindukan manusia. Siapa dapat memastikan apakah sebuah kenyataan itu sesungguhnya impian dan sebuah impian itu justru sesungguhnya kenyataan? Dengan menggugah pembaca, buku ini merujuk pada harga yang mahal dan nilai yang tinggi yang dimiliki impian manusia.
Sekutip dari kisah buku: "Terimalah perhiasanku ini, Nak," kata Dewi Sukesi. Dan perempuan tua ini pun mengalungkan untaian kembang kenanga di dada Kumbakarna. Mendadak alam pun membalik ke masa lalu. Tanpa malu-malu. Jeritan kedukaan menjadi madah syukur sukacita. Bermain-main anak-anak bajang di tepi pantai, padahal kematian sedang berjalan mengintai-intai. Gelombang lautan hendak menelan anak-anak bajang, tapi dengan kapal kematian anak-anak bajang malah berenang-renang menyelami kehidupan. Hujan kembang kenanga di mana-mana, dan Dewi Sukesi pun tahu, penderitaan itu ternyata demikian indahnya. Di dunia macam ini, kebahagiaan seakan hanya keindahan yang menipu. Sukesi terbang ke masa lalunya, ke pelataran kembang kenanga. Ia tahu kegagalannya untuk memperoleh Sastra Jendra ternyata disebabkan oleh ketaksanggupannya untuk menderita. Ia rindu akan kebahagiaan yang belum dimilikinya, dan karena kerinduannya itu ia malah membuang miliknya sendiri yang paling berharga, penderitaannya sendiri. Dan pada Kumbakarnalah kini penderitaan itu menjadi raja."


















